Sabtu, 15 Maret 2014

SEKILAS ANTROPOMETRI

Pengertian Antropometri
Istilah  Antropometri  berasal  dari  kata  “Anthro”  yang  berarti  manusia  dan“metri” yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan sebagai suatu  studi  yang  berkaitan  dengan  pengukuran  bentuk,  ukuran  (tinggi,  lebar)  berat dan   lain-lain   yang   berbeda   satu   dengan   lainnya   (Sutalaksana,1996).   Antropometri   adalah   satu   kumpulan   data   numerik   yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan  dari  data  tersebut untuk penanganan masalah  desain.  Antropometri secara   lebih   luas   digunakan   sebagai   pertimbangan   ergonomis   dalam   proses perencanaan produk maupun sistem kerja yang memerlukan interaksi manusia. Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara lebih luas antara lain dalam  hal  perancangan  areal  kerja  (work  station),  perancangan  alat  kerja  seperti mesin,  equipment,  perkakas  (tools),  perancangan  produk-produk  konsumtif  seperti pakaian,  kursi,  meja,  dan  perancangan  lingkungan  fisik.  Berdasarkan  hal  tersebut maka dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk, ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang akan dirancang sesuai dengan manusia yang akan  mengoperasikan atau menggunakan produk tersebut (Nurmianto,2003).

Pembagian Antropometri
Antropometri   dibagi   menjadi   dua   bagian.   Adapun   bagian   dari   data antropometri adalah sebagai berikut (Nurmianto,2003):
1.      Antropometri Statis yaitu, pengukuran dilakukan pada saat tubuh dalam keadaan diam.
2.      Antropometri  Dinamis  yaitu,  pengukuran  dimensi  tubuh  diukur dalam  berbagai posisi tubuh yag sedang bergerak.

Beberapa  Sumber  Variabilitas
Perbedaan antara satu populasi dengan populas yang lain adalah di kerenakan oleh faktor-faktor sebagai berikut (Nurmianto,2003).
1.      Keacakanataurandom
Dala butir pertama ini walaupun telah terdapat dalam satu kelompok populasi yang sudah jelas sama jenis  kelamin,suku / bangsa,kelompok usia dan pekerjaannya,namun masih akan ada perbedaan yang cukup signifikan antara bebagai macam masyarakat.distribusi frekuensi secara statistik dan dimensi anggota kelompok  anggota masyarakat jelas dapat diaproksimasikan dengan menggunakan distribusi normal,yaitu dengan menggunakan data persentil yang telah diduga,jika mean(rata-rata) SD (standar deviasi) nya telah dapat diestimasi.
2.      Jenis Kelamin
Secara distribusi statistik ada perbedan yang signifikan antara dimensi tubuh pria dan wanita.untuk kebnyakan dimensi pria dan wanita ada perbedaan yang signifikan di antara mean (rata-rata)  dan nilai perbedaan ini tidak dapat di abaikan begitu saja.pria di anggap lebih panjang dimensi segmen badannya daripada wanita. Data antropometri untuk kedua jenis kelamin tersebut selalu disajikan secara terpisah.
3.      Suku Bangsa (Etnic Variability)
Variasi di antara beberapa kelompok suku bangsa telah menjadi hal yang tidak kalah pentingnya terutama ksrna menngkatnya jumlah angka migrasi dari satu negara ke negara yang lain. Suatu contoh  sederhana yaitu dengan meningkatnya jumlah penduduk yang migrasi  dari negara vietnam ke australia untuk mengisi jumlah satuan  angkatan kerja (industrial workforce),maka  akan mempengaruhi  antropometri secara nasional.
4.      Usia
Usia digolongkan beberapa kelompok. Berikutinipenggolonganusia.
a.       Balita
b.      Anak anak
c.       Remaja
d.      Dewasa
e.       Lanjut usia
Hal ini jelas berpengaruh terutama jikaa desain diaplikasikan antuk antropometrianak-anak. Antropometrinya cenderung terus meningkat sampai batas usia dewasa.namun setelah menginjak usia dewasa,tinggi badan manusia mempunyai  kecenderungan untuk menurun yang antara lain di sebabkan oleh berkurangnya elastisitas tulang belakang  (intervertebal  discs). Selain itu juga berkurangnya dinamika gerakan tangan dan kaki.
5.      Jenis pekerjaan
Beberapa jenis pekerjaan tertentu menuntut adanya persyratan dalam seleksi karyawan. Seperti misalnya : buruh dermaga adalah harus mempunyai postur tubuh yang relatif lebih besar dibandingkan dengan karyawan  perkantoran pada umumnya.apalagi jika di bandingkan dengan jenis pekerjaan militer.
6.      Pakaian
Hal ini juga merupakan sumber variabilitas yang di sebabkan oleh bervariasinya iklim yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya, mislnya pada waktu musim dingin manusia akan memakai pakaian yng relatif tebal dan ukuran relatif yang lebih besarataupun untuk para pejerja di pertambangan, pengeboranlepas pantai,pengecoran logam.
7.      Faktor kehamilan pada wanita
Faktor ini sudah jelas akan mempunyai pengaruh perbedaan yang berarti kalau di bandingkan dengan wanita yang tidak hamil,terutama yang berkaitan dengan analisis perancangan produk (APP) dan analisis perancangan kerja (APK).
8.      Cacat tubuh secara fisik

Perkembangan yang menggembirakan pada dekade terakhir yaitu dengan di berikannya skala prioritas pada rancangan bangun fasilitas akomodasi untuk para penderita cacat tubuh secara fisik sehingga mereka ikut merasakan “kesamaan” dalam pengunaan  dari hasil ergonomi  di dalam pelayanan untuk masyarakat. Masalah yang sering timbul misalnya : keterbatasan jarak jangkauan,di butuhkan ruang kaki (kneep space)untuk desain meja kerja,lorongataujalur khusus untuk kursi roda,ruang khusus di dalam lavatory, jalur khusus untuk keluar masuk perkantoran,kampus,hotel,restoran,super market dan lain lain.

OPINI KEBAKARAN HUTAN DI RIAU

Kebakaran Hutan di Riau


Kebakaran hutan merupakan isu paling sensitf pada beberapa akhir belakangan ini terutama pada bulan maret ini, disaat dunia gencar menyuarakan pemanasan gelobal disaat yang sama juga terdengar kabar tentang kebakaran hutan di Riau. Kegiatan hutan industri yang semakin luas menjadi alasan pelebaran lahan, serta penanganan hutan yang terkesan sembarangan memberikan dampak serius pada akhirnya. Kebakaran hutan di Riau salah satunya. Seperti terdapat pada situs pemberitaan (http://nasional.news.viva.co.id/news/read/488478-kebakaran-hutan-di-riau-meluas-hingga-137-titik) kebakaran hutan di Riau sudah tercatat 137 titik hutan yang mengalami kebakaran. Asap yang dihasilkan tidak hanya membuat sesak, melainkan menurunkan jarak pandang masyarakat untuk beraktivitas. Seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi apabila adanya kesadaran masyarakat dalam menjada hutannya secara arif dan bijaksana. Dengan tidak mengambil jalan singkat dengan membakar hutan dalam kegiatan melebarkan ladang atau pun perkebunan tentu akan memberikan dampak positif. Kejadian serupa sudah berulang-ulang terjadi di tempat yang sama, semestinya pemerintah setempat memiliki sikap tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dan memperketat izin usaha perkebunan sawit/ hutan industri selama kegiatan tersebut berlangsung. Penyuluhan kepada masyarakat tentang hal ini dapat sangat membantu dalam wacana pencegahan kebakaran hutan yang akan timbul. Jika hal ini dapat dilakukan tentu kebakaran hutan di Riau tidak akan terjadi sebanyak ini. Indonesia sebagai negara yang menjadi paru-paru dunia karena hutan tropisnya seharusnya dapat lebih memahami cara menjaga hutannya agar tetap hijau dan menghasilkan dengan baik. Percuma nenek moyang kita meninggalkan hutan yang sangat luas di Indonesia tetapi tidak dirawat dan dimanfaakan dengan baik.

Rabu, 08 Januari 2014

Perencanaan Organisasi SOFTSKILL#2

Perencanaan dalam sebuah organisasi adalah suatu proses kegiatan pemikiran dan penentuan prioritas yang harus dilakukan secara menyeluruh sebelum melakukan tindakan yang sebenar-benarnya dalam rangka mencapai tujuan. Batasan perencanaan
Dalam sebuah perencanaan, terdapat pula batasan-batasan perencanaan yang dapat dimengerti sebagai batasan dalam membuat suatu rencana, sehingga dalam menetapkan rencana, seseorang dapat mengetahui apa yang harus direncanakan dan dilaksanakan agar tidak menjauh dari tujuan sebuah organisasi.

Fungsi Perencanaan
Fungsi perencanaan pada dasarnya adalah suatu proses pengambilan keputusan sehubungan dengan hasil yang diinginkan, dengan penggunaansumber daya dan pembentukan suatu sistem komunikasi yang memungkinkan pelaporan dan pengendalian hasil akhir serta perbandingan hasil-hasil tersebut dengan rencana yang di buat. Banyak kegunaan dari pembuatan perencanaan yakni terciptanya efesiensi dan efektivitas pelaksanaan kegiatan perusahaan, dapat melakukan koreksi atas penyimpangan sedini mungkin, mengidentifikasi hambatan-hambatan yang timbul menghindari kegiatan, pertumbuhan dan perubahan yang tidak terarah dan terkontrol.
Prinsip-prinsip dalam manajemen bersifat lentur dalam arti bahwa perlu dipertimbangkan sesuai dengan kondisi-kondisi khusus dan situasi-situasi yang berubah. Menurut Henry Fayol , prinsip-prinsip umum manajemen ini terdiri dari :
1.      Pembagian kerja (division of work).
2.      Wewenang dan tanggung jawab (authority and responsibility).
3.      Disiplin (discipline).
4.      Kesatuan perintah (unity of command).
5.      Kesatuan pengarahan (unity of direction).Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan sendiri (subordination of individual interests to the general interests).
6.      Pembayaran upah yang adil (renumeration).
7.      Pemusatan (centralisation)
8.      Hirarki (hierarchy).
9.      Tata tertib (order).
10.  Keadilan (equity).
11.  Stabilitas kondisi karyawan (stability of tenure of personnel).
12.  Inisiatif (Inisiative).
13.  Semangat kesatuan (esprits de corps)

Keuntungan dan kerugian dalam pembagian tenaga kerja.
1.      Pekerja berspesialisasi dalam tugas tertentu sehingga keterampilan dalam tugas tertentu   meningkat.
2.      Tenaga kerja tidak kehilangan waktu dari satu tugas ke tugas yang lain.
3.      Pekerja memusatkan diri pada satu pekerjaan dan membuat pekerjaan lebih mudah dan efisien, dan
4.      Pekerja hanya perlu mengetahui bagaimana melaksanakan bagian tugas dan bukan proses keseluruhan produk.

Selain keutungan pembagian tenaga kerja terdapat juga kerugian pembagian tenaga kerja. Berikut ini adalah kerugian pembagian tenaga kerja.
1.      Pembagian kerja hanya dipusatkan pada efisiensi dan manfaat ekonomi yang mengabaikan   variabel manusia.
2.      Kerja yang terspesialisasi cenderung menjadi sangat membosankan yang akan berakibat tingkat produksi menurun.

Menurut Chester Bernard, akan makin banyak perintah manajer yang di terima dalam jangka panjang apabila terdapat hal-hal mengenai saluran formal dari komunikasi digunakan oleh manager dan di kenal oleh seluruh organisasi. Tiap anggota organisasi telah menerima saluran komunikasi formal melalui dia menerima perintah. Lini komonikasi antara manager dan bawahan bersifat secara langsung. Rantai komando yang lengkapdi gunakan untuk mengeluarkan perintah. Manager memiliki keterampilan komunikasi yang memadai. Manager menggunakan lini komunikasi formal hanya untuk urusan organisasional. Suatu pemerintah secara otentik memang berasal dari manager.


Minggu, 05 Januari 2014

KEWIRAUSAHAAN SOFTSKILL #1

Kewirausahaan berasal dari bahasa Perancis, yaitu Entrepreneurship yang artinya between taker. Kewirausahaan adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira, berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani dan berwatak agung. Usaha, berarti perbuatan amal, bekerja, berbuat sesuatu. Jadi wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Ini baru dari segi etimologi (asal usul kata). Sedangkan ada pendapat yang mengatakan bahwa kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Wirausahawan adalah orang yang melakukan usaha atau kegiatan sendiri dengan segala kemampuan yang dimilikinya atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat dan menilai kesempatan-kesempatan bisnis.
Tiga jenis perilaku wirausaha yaitu:
1)  Wirausaha yang memiliki inisiatif
2)  Wirausaha yang mengorganisir mekanisme sosial dan ekonomi untuk menghasilkan sesuatu
3)  Menerima resiko atau kegagalan
Kunci penting seorang wirausahawan adalah berpikir kreatif, inovatif, berani mengambil resiko dan tidak mudah putus asa.
Karakteristik menurut Mc Clelland:
1)  Keinginan untuk berprestasi
2)  Keinginan untuk bertanggung jawab
3)  Preferensi kepada resiko-resiko menengah
4)  Persepsi kepada kemungkinan berhasil
5)  Rangsangan oleh umpan balik
6)  Aktivitas energik
7)  Orientasi ke masa depan
8)  Keterampilan dalam pengorganisasian
9)  Sikap terhadap uang
Karakteristik wirausahawan yang sukses dengan n Ach tinggi :
1)  Kemampuan inovatif
2)  Toleransi terhadap kemenduaan (ambiguity)
3)  Keinginan untuk berprestasi
4)  Kemampuan perencanaan realistis
5)  Kepemimpinan terorientasi kepada tujuan
6)  Obyektivitas
7)  Tanggung jawab pribadi
8)  Kemampuan beradaptasi
9)  Kemampuan sebagai pengorganisasi dan administrator
Tiga kebutuhan dasar yang mempengaruhi pencapaian tujuan ekonomi menurut Mc Clelland, yaitu:
a.  Kebutuhan untuk berprestasi (nAch)
n-ACH adalah motivasi untuk berprestasi, karena itu karyawan akan berusaha mencapai prestasi tertingginya, pencapaian tujuan tersebut bersifat realistis tetapi menantang, dan kemajuan dalam pekerjaan. Contohnya, Karyawan perlu mendapat umpan balik dari lingkungannya sebagai bentuk reward terhadap usaha yang dilakukannya tersebut.
b.  Kebutuhan untuk berafiliasi (n Afi)
Kebutuhan untuk Berafiliasi atau Bersahabat (n-AFI). Kebutuhan akan Afiliasi adalah hasrat untuk berhubungan antar pribadi yang ramah dan akrab. Contohnya Seorang yang memiliki keinginan untuk mempunyai hubungan yang erat, kooperatif dan penuh sikap persahabatan dengan pihak lain.
c.  Kebutuhan untuk berkuasa (n Pow)
Kebutuhan akan Kekuasaan (n-POW) Kebutuhan akan kekuasaan adalah kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara dimana orang-orang itu tanpa dipaksa tidak akan berperilaku demikian atau suatu bentuk ekspresi dari individu untuk mengendalikan dan mempengaruhi orang lain. Contohnya, seorang atasan ingin dapat mengendalikan dan mempengaruhi bawahannya, dimana para karyawannya berperilaku sesuai yang diinginkan oleh atasan tersebut. Sumber-sumber gagasan dalam identifikasi peluang usaha baru, yaitu:
a.  Kebutuhan akan sumber penemuan.
b.  Hobi atau kesenangan pribadi.
c.  Mengamati kecenderungan-kecenderungan.
d.  Mengamati kekurangan-kekurangan produk dan jasa yang ada.
e.  Kegunaan lain dari barang-barang biasa.

f.  Pemanfaat produk dari perusahaan lain.
Dalam suatu usaha dibutuhkan sumber gagasan yang merupakan cikal-bakal dari kearah mana dan keberlangsungan dari usaha yang dilakukan. Sebagai contoh kerangka berfikirnya :
1. Konsumen. Wirausahawan harus selalu memperhatikan apa yang menjadi keinginan konsumen.
2. Perusahaan yang sudah ada. Wirausahawan harus selalu memperhatikan dan mengevaluasi produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan yang sudah ada serta mencari cara untuk memperbaiki penawaran yang sudah ada.
3. Saluran distribusi. Merupakan sumber gagasan baru yang sangat baik karena kedekatan mereka dengan kebutuhan pasar.
4. Pemerintah. Merupakan sumber pengembangan baru yang terdiri dari 2 cara, yaitu melalui dokumen hak-hak paten yang memungkinkan pengembangan sejumlah produk baru dan melalui peraturan pemerintah terhadap dunia bisnis yang memungkinkan munculnya produk baru.
5. Penelitian dan pengembangan. Sering menghasilkan gagasan baru atau perbaikan produk yang sudah ada.
Unsur-unsur analisa pulang pokok yaitu:
1)  Biaya tetap
2)  Biaya variabel
3)  Biaya total
4)  Pendapatan total
5)  Keuntungan
6)  Kerugian
7)  Titik pulang pokok



Sabtu, 28 Desember 2013

ERGONOMI

Istilah “ergonomi” berasal dari bahasa latin yaitu Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti hukum alam, sehingga ergonomi dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, teknik, manajemen dan perancangan. Ergonomi disebut juga “human factors”, karena didalam ergonomi dibutuhkan studi tentang system dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya (Nurmianto, 2000).
Tujuan utama dari ergonomi adalah upaya memperbaiki performan kerja manusia seperti keselamatan kerja disamping untuk mengurangi energi kerja yang berlebihan serta mengurangi datangnya kelelahan yang terlalu cepat dan menghasilkan suatu produk yang nyaman, enak di pakai oleh pemakainya. Disamping itu diharapkan juga mampu memperbaiki pendayagunaan sumber daya manusia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia (human errors) (Nurmianto, 2000).

Postur kerja yang baik sangat ditentukan oleh pergerakan organ tubuh saat bekerja. Pergerakan yang dilakukan saat bekerja meliputi : flexion, extension, abduction, adduction, rotation, pronation, dan supination. Flexion adalah gerakan dimana sudut antara dua tulang terjadi pengurangan. Extension adalah gerakan merentangkan (stretching) dimana terjadi peningkatan sudut antara dua tulang. Abduction adalah pergerakan menyamping menjauhi dari sumbu tengah (the median plane) tubuh. Adduction adalah pergerakan kearah sumbu tengah tubuh (the median plane). Pronation adalah perputaran bagian tengah (menuju kedalam) dari anggota tubuh. Supination adalah perputaran kearah samping (menuju keluar) dari anggota tubuh (Nurmianto, 2000).
Cumulative Trauma Disorders (dapat disebut sebagai Repetitive Motion Injuries atau Musculoskeletal Disorders) adalah cidera pada sistem kerangka otot yang semakin bertambah secara bertahap sebagai akibat dari trauma kecil yang terus menerus yang disebabkan oleh desain buruk yaitu desain alat/sistem kerja yang membutuhkan gerakan tubuh dalam posisi yang tidak normal serta penggunaan perkakas/handtools atau alat lain yang terlalu sering. Empat faktor penyebab timbulnya CTD (Tayyari & Smith, 1997):
1.      Penggunaan gaya yang berlebihan selama gerakan normal.
2.       Gerakan sendi yang kaku yaitu tidak berada pada posisi normal. Misalnya. bahu yang terlalu terangkat, lutut yang terlalu naik, punggung terlalu membungkuk, dan lain – lain.
3.      Perulangan gerakan yang sama secara terus – menerus
4.       Kurangnya istirahat yang cukup untuk memulihkan trauma sendi
Gejala yang berhubungan dengan CTD antara lain adalah terasa sakit atau nyeri pada otot, gerakan sendi yang terbatas dan terjadi pembengkakan. Jika gejala ini dibiarkan maka akan menimbulkan kerusakan permanen (Tayyari & Smith, 1997).

REBA (Rapid Entire Body Assesment)

Rapid Entire Body Assessment dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham’s Institute of Occuptaional Ergonomic). Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja. Penilaian dengan menggunakan REBA tidak membutuhkan waktu yang lama untuk melengkapi dan melakukan scoring general pada daftar aktivitas yang mengindikasikan perlu adanya pengurangan resiko yang diakibatkan postur kerja operator (Hignett dan Mc Atamney, 2000).
Metode ergonomi tersebut mengevaluasi postur, kekuatan, aktivitas dan factor coupling yang menimbulkan cidera akibat aktivitas yang berulang–ulang. Penilaian postur kerja dengan metode ini dengan cara pemberian skor resiko antara satu sampai lima belas, yang mana skor tertinggi menandakan level yang mengakibatkan resiko yang besar (bahaya) untuk dilakukan dalam bekerja. Hal ini berarti bahwa skor terendah akan menjamin pekerjaan yang diteliti bebas dari ergonomic hazard. REBA dikembangkan untuk mendeteksi postur kerja yang beresiko dan melakukan perbaikan sesegera mungkin. REBA dikembangkan tanpa membutuhkan piranti khusus. Ini memudahkan peneliti untuk dapat dilatih dalam melakukan pemeriksaan dan pengukuran tanpa. biaya peralatan tambahan. Pemeriksaan REBA dapat dilakukan di tempat yang terbatas tanpa menggangu pekerja.
Pengembangan REBA terjadi dalam empat tahap. Tahap pertama adalah pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, tahap kedua adalah penentuan sudut–sudut dari bagian tubuh pekerja, tahap ketiga adalah penentuan berat benda yang diangkat, penentuan coupling dan penentuan aktivitas pekerja. Dan yang terakhir, tahap keempat adalah perhitungan nilai REBA untuk postur yang bersangkutan. Dengan didapatnya nilai REBA tersebut dapat diketahui level resiko dan kebutuhan akan tindakan yang perlu dilakukan untuk perbaikan kerja. Penilaian postur dan pergerakan kerja menggunakan metode REBA melalui tahapan-tahapan sebagai berikut (Hignett dan McAtamney, 2000):
1.      Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto.
Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya.
2.      Penentuan sudut-sudut dari bagian tubuh pekerja. Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan besar sudut dari masing-masing segmen tubuh yang meliputi punggung (batang tubuh), leher, lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan dan kaki.
Pada metode REBA segmen-segmen tubuh tersebut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu grup A dan B. Grup A meliputi punggung (batang tubuh), leher dan kaki. Sementara grup B meliputi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Dari data sudut segmen tubuh pada masing-masing grup dapat diketahui skornya, kemudian dengan skor tersebut digunakan untuk melihat tabel A untuk grup A dan tabel B untuk grup B agar diperoleh skor untuk masing-masing tabel.

Gambar 2.1 Range Pergerakan Punggung
Berdasarkan gambar 2.1 range pergerakan punggung merupakan gerakan yang dilakukan oleh tubuh saat beraktivitas yang membentuk sudut tubuh. Sumbu tegak lurus atau sumbu y adalah garis sejajar dari tulang belakang manusia.
Tabel 2.1 Skor Pergerakan Punggung
Pergearkan
Skor
Perubahan Skor
Tegak/ alamiah
1
+1 Jika memutar/ miring kesamping
0°- 20° flexion
0°- 20°extention
2
20°-60° flexion
>20° extension
3
>60° flexion
4
Tabel 2.1 pergerakan punggung menjelaskan pembobotan skor dari masing-masing sudut tubuh. Nilai pergerakan 1 diberikan jika pergerakan tubuh pada saat posisi tubuh tegak secara alamiah. Pergerakan tubuh extension maupun flexion yang membentuk sudut mulai dari 0°- 20° bernilai skor sebesar 2, sedangkan pergerakan tubuh membentuk sudut 20°-60° flexion dan lebih dari 20° extension bernilai 3, dan pergerakan yang membentuk sudut lebih dari 60° flexion bernilai skor sebesar 4. Skor-skor tersebut akan mendapatkan tambahan skor sebesar 1 jika saat bergerak membentuk sudut tubuh terjadi gerakan memutar/tiring kesamping.

Gambar 2.2 Range Pergerakan Leher
Gambar 2.2 range pergerakan leher merupakan gambar yang menjelaskan pergerakan yang dilakukan oleh leher manusia saat beraktivitas. Penentuan garis vertikal atau sumbu y pada pergerakan leher berdasarkan garis lurus posisi leher dan kepala, sedangkan garis horizontal atau sumbu x berdasarkan posisi bahu.
Tabel 2.2 Skor Pergerakan Leher
Pergerakan
Skor
Perubahan Skor
0°- 20° flexion
1
+1 Jika memutar/miring kesamping
>20° flexion atau extension
2
Tabel 2.2 skor pergerakan leher menjelaskan bobot skor dari pergerakan leher yang dilakukan. Pergerakan leher membentuk sudut 0°- 20° flexion bernilai skor sebesar 1, sedangkan pergerakan leher membentuk sudut lebih dari 20° flexion atau extension bernilai skor 2. Skor akan bertambah 1 jika saat bergerak, leher melakukan pergerakan memutar atau miring ke samping.

Gambar 2.3 Pergerakan Kaki
Gambar 2.3 pergerakan kaki merupakan gambar yang menjelaskan pergerakan kaki manusia saat beraktivitas. Terdapat dua pergerakan kaki yang dilakukan yaitu kaki yang tertopang sehingga bobot tersebar merata pada kedua kaki dan kaki yang tidak tertopang atau bobot beban yang tersebar tidak merata.
Tabel 2.3 Skor Pergerakan Kaki
Pergerakan
Skor
Perubahan Skor
Kaki tertopang, bobot tersebar merata, jalan atau duduk
1
+1 Jika lutut antara 30° dan 60° flexion
+2 Jika lutut >60° flexion (tidak ketika duduk)
Kaki tidak tertopang, bobot tersebar merata/ postur tidak stabil
2
Tabel 2.3 skor pergerakan kaki menjelaskan bobot yang diperoleh dari gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaki saat beraktivitas. Pergerakan kaki tertopang atau bobot tersebebar merata pada kedua kaki mendapatkan skor sebesar 1, sedangkan pergerakan kaki tidak tertopang atau bobot tersebar tidak merata mendapatkan skor 2. Skor akan bertambah 1 pada gerakan kaki yang dilakukan apabila lutut kaki membentuk sudut antara 30° dan 60° flexion, sedangan apabila lutut membentuk sudut lebih dari 60° flexion (tidak ketika duduk) akan ditambahkan skor sebesar 2.

Gambar 2.4 Range Pergerakan Lengan Atas
Gambar 2.4 range pergerakan lengan atas yang menunjukkan sudut-sudut gerakan yang dilakukan oleh lengan bagian atas manusia saat beraktivias. Terdapat 4 bagian pembobotan sudut yang dilakukan antara lain untuk 0°-20° flexion maupun axtension dengan bobot skor sebesar 1, pergerakan lengan atas flexion mulai dari 20°-45° dan lebih dari 20° extension berbobot 2, untuk pergerakan lengan atas flexion dengan sudut 45°-90° berbobot skor sebesar 3, dan pergerakan lengan atas yang terakhir adalah pergerakan flexion lebih dari 90° mendapatkan bobot skor sebesar 4.
Tabel 2.4 Skor Pergerakan Lengan Atas
Pergerakan
Skor
Perubahan Skor
20° extension sampai 20° flexion
1
+1 Jika posisi lengan:
-          Adducted
-          Rotated
+1 Jika bahu ditinggikan
+1 jika besandar, bobot lengan ditopang atau sesuai gravitasi
>20° extension
20°-45° flexion
2
45°-90° flexion
3
>90° flexion
4
Bobot skor akan bertambah 1 apabila posisi lengan pada posisi adducted ataupun rotated, jika bahu ditinggikan, dan jika bersandar atau bobot lengan ditopang atau sesuai gravitasi. Tabel 2.4 merupakan rangkuman dari penjelas sebelumnya.

Gambar 2.5 Range Pergerakan Lengan Bawah
Gambar 2.5 range pergerakan lengan bawah menunjukkan pergerakan lengan bawah yang membentuk sudut-sudut tertentu saat bekerja. Terlihat pada tabel 2.5 skor pergerakan lengang bawah.

Tabel 2.5 Skor Pergerakan Lengan Bawah
Pergerakan
Skor
60°-100° flexion
1
<20° flexion atau > 100° flexion
2

Gambar 2.6 pergerkan pergelangan tangan manusia selama proses bekerja yang membentuk sudut-sudut tertentu. Terlihat pada gambar 2.6 sudut-sudut yang terbentuk pada pergelangan tangan.
Gambar 2.6 Pergerakan Pergelangan Tangan
Berdasarkan ilustrasi pada gambar 2.6, maka diuraikan pergerakan yang terjadi pada pergelangan tangan menjadi skor-skor. Tabel 2.6 merupakan rangkuman dari skor terbebut.
Tabel 2.6 Skor Pergerakan Pergelangan Tangan
Pergerakan
Skor
Perubahan Skor
0°-15° flexion/extension
1
+ Jika pergelangan tangan menyimpang/ berputar
15° flexion/ extension
2
Setelah skor-skor pergerakan tubuh didapatkan maka tabel-tabel tersebut digunakan untuk mencari skor REBA pada tabel A maupun B. Tabel 2.7 merupakan tabel untuk mencari skor pada bagian tubuh atas mulai dari pergerakan leher, punggung, sampai dengan posisi kaki. Cara untuk mendapatkan nilai pada tabel A yaitu dengan mengurutkan nilai-nilai yang didapat dari masing-masing segmen pergerakan pada tabel A hingga mendapatkan hasil skor pada tabel tersebut. Skor yang didapatkan pada tabel A akan bertambah apabila beban yang diberikan pada operator saat bekerja memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan.
Tabel 2.7 Tabel A


Punggung


1
2
3
4
5
Leher = 1
Kaki





1
1
2
2
3
4
2
2
3
4
5
6
3
3
4
5
6
7
4
4
5
6
7
8
Leher = 2
Kaki





1
1
3
4
5
6
2
2
4
5
6
7
3
3
5
6
7
8
4
4
6
7
8
9
Leher = 3
Kaki





1
3
4
5
6
7
2
3
5
6
7
8
3
5
6
7
8
9
4
6
7
8
9
9
Beban
0
1
2
+1
<5 kg
5-10 kg
>10 kg
Penambahan Beban secara tiba-tiba atau secara cepat
Tabel 2.8 merupakan tabel skor tubuh untuk mencari skor tubuh berdasarkan segmen tubuh lengan atas, lengan bawah dan pergelangan tangan. Cara untuk mencai skor pada tabel B diurutkan skor-skor yang terdapat dari segmen tubuh sehingga didapatkan skor tabel B. Skor yang diperoleh akan bertambah apabila memenuhi syarat-syarat yang terdapat pada coupling saat bekerja.
Tabel 2.8 Tabel B
Tabel 2.8 Tabel B (lanjutan)
Coupling
0 - Good
1 - Fair
2 - Poor
3 - Unacceptable
Pegangan pas dan tepat ditengah, genggaman kuat
Pegangan tangan bias diterimatapi tidak ideal/couping lebih sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh
Pegangan tangan tidak bisa diterima walaupun memungkinkan
Dipaksakan genggaman yang tidak aman, tanpa pegangan coupling tidak sesuai digunakan oleh bagian lain dari tubuh

Tabel 2.9 merupakan tabel skor REBA yang akan digunakan untuk mengetahui risk level dari kegiatan yang dilakukan manusia saat bekerja. Caranya dengan mengurutkan nilai dari tiap tabel yang telah didapatkan, skor pada tabel C akan bertambah apabila aktivitas yang dilakukan oleh manusia atau pekerja memenuhi kriteria activity score.
Tabel 2.9 Tabel C


Skor A


1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Skor B
1
1
1
2
3
4
6
7
8
9
10
11
12
2
1
2
3
4
4
6
7
8
9
10
11
12
3
1
2
3
4
4
6
7
8
9
10
11
12
4
2
3
3
4
5
7
8
9
10
11
11
12
5
3
4
4
5
6
8
9
10
10
11
12
12
6
3
4
5
6
7
8
9
10
10
11
12
12
7
4
5
6
7
8
9
9
10
11
11
12
12
8
5
6
7
8
8
9
10
10
11
12
12
12
9
6
6
7
8
9
10
10
10
11
12
12
12
10
7
7
8
9
9
10
11
11
12
12
12
12
11
7
7
8
9
9
10
11
11
12
12
12
12
12
7
8
8
9
9
10
11
11
12
12
12
12
Activity Skor
+1 Jika 1 atau lebih bagian tubuh statis, ditahan lebih dari 1 menit
+1 Jika pengulangan gerakan dam rentang waktu singkat, diulang lebih dari 4 kali permenit (tidak termasuk berjalan)
+1 Jika gerakan menyebabkan perubahan atau pergeseran atau pergeseran postur yang cepat dari posisi awal


Setelah skor pada tabel C didapatkan maka langkah selajutnya adalah menentukan termasuk kedalam kategori apa kegiatan manusia atau operator yang diamati. Terlihat pada tabel 2.10 yang merupakan rangkuman dari risk level tabel REBA.
Tabel 2.10 Tabel Resiko Ergonomi
REBA Skor
Risk Level
Tindakan
1
Diabaikan
Tidak Diperlukan
2-3
Low
Mungkin Diperlukan
4-7
Medium
Diperlukan
8-10
High
Segera Diperlukan
11-15
Very High
Diperlukan Sekarang